Sesak Digital

Entah sejak kapan hal ini terjadi. Dulu saya sempat berseloroh bersama teman-teman di Bandung ketika melihat Plat B menjejali jalanan kota dan parkiran factory outlet Kota Kembang di akhir pekan. Kami berpendapat, mereka yang kerap datang memiliki lemari pakaian begitu besar, hingga dituntut untuk membelanjakan hasil peluh dalam bentuk cadangan sandang yang tak usai-usai.

Dalam dunia yang semakin digital, ruang penyimpanan (hardisk, storage) pun terus kita jejali dengan berbagai macam hal. Telepon pintar merk Apple kini bahkan tersedia dengan 128gb, atau keluarga Android yang memberikan slot tambahan penyimpanan, hingga kita bisa menambah sendiri sesuai keinginan, sesuai kemampuan.

Ribuan hasil jepretan foto di telepon pintar ini beberapa akan kita unggah ke berbagai media sosial, ada yang menjadi favorit dan berubah nama menjadi avatar. Sisanya? Mengendap, menunggu waktu luang yang sepertinya semakin sedikit karena kita sibuk mengamati linimasa, atau meladeni curahan hati kawan yang menunggu pinangan kekasih hatinya.

Itu baru foto, belum lagi puluhan aplikasi dan permainan yang berjejalan didalam telepon genggam kita hari ini. Semuanya terpakai? Belum tentu, beberapa mungkin diunduh karena aplikasi tersebut sedang gratis pada hari tertentu. Beberapa permainan pun tak lagi tersentuh karena kawan tak ada lagi yang memainkan aplikasi tersebut.

Informasi saja kini terasa sesak, ada beberapa telah kita tandai di peramban kesayangan. Beberapa kita salin pada aplikasi pencatat digital. Beberapa kita kirimkan ke aplikasi lain yang konon katanya memudahkan kita untuk membacanya nanti ketika sudah ada waktu luang. Apakah kelak akan benar-benar dibaca? Entahlah, seringnya saya sendiri lupa.

Semua foto dan aplikasi tersebut menghabiskan ruang penyimpanan tidak sedikit. Awalnya kita akan berbangga memiliki telepon pintar dengan kamera unggulan. Kelak kita akan teringat kembali betapa rampingnya ukuran sebuah foto hasil jepretan kamera VGA, zaman Nokia masih digdaya.

Setiap orang memiliki batasan sendiri menghadapi kesesakan digital ini. Ada yang tega, tanpa ragu hapus saja. Saya termasuk yang “dibuang sayang”. Sejelek apapun fotonya, saya masih menyimpannya (kecuali memang foto yang menyebabkan luka, sudah saya hapus saja). Lantas ketika ruang penyimpanan telepon pintar semakin penuh, maka menyalinnya ke komputer adalah salah satu jalan. Layaknya virus yang mewabah, sesak digital tadi pun merambah ke komputer pribadi.

Komputer pribadi ditakdirkan dengan ruang penyimpanan lebih luas dibanding telepon pintar tentunya. Tapi tentu komputer pribadi sudah punya masalah sendiri dengan ruang penyimpanan ini. Bergiga-giga bit lagu musisi kesayangan yang telah dikonversi dari cakram padat menjadi versi digital sudah barang pasti ada di komputer pribadi + komputer jinjing. Belum termasuk koleksi unduh ilegal film-film hollywood hasil buruan tengah malam. Kadang ada film yang jelek namun tetap saja masih disimpan, karena usaha menahan kantuk menunggu unduh selesai tentu tak mau diberangus begitu saja dengan kombinasi shift+del.

Ketika sesak itu memuncak, akan ada peringatan tentang low memory di komputer pribadi. Atau kita tak bisa lagi menjepret momen matahari tenggelam karena telepon pintar kita mulai menjerit tentang ruang penyimpanan yang penuh. Lalu hari akan dihabiskan dengan memilah-milah mana yang perlu dihapus mana yang tidak. Kadang memori yang telah ditinggal kembali hadir ketika melihat beberapa foto lama, atau film-film tahun lalu yang ditonton bersama(nya).

Teknologi tak mau ketinggalan, komputasi awan bermaksud menjadi jalan tengah. Alih-alih duplikasi pada setiap ruang penyimpanan yang kini begitu berharga, ruang penyimpanan-awan (cloud storage) bermaksud memudahkan kita dan menambah ruang. Gratis diawal, ketika mulai sesak, maka ada biaya lanjutan untuk penyewaan. Begitu juga halnya jika kita cukup malas untuk memilah-milah mana yang akan tetap disimpan dan dihapus di komputer pribadi, beli saja lemari tambahan (hardisk external), ya sebut sajalah begitu. Sebelum akhirnya kita jejali kembali, dan penuh lagi (dan lagi).

Sesak digital berbeda dengan kesesakan di lemari baju kita, baju yang tak lagi muat, atau sudah jarang dipakai bisa kita bagikan untuk yang membutuhkan. Sesak digital memberikan 2 pilihan, simpan atau hapus, itu saja menurut saya. Menyalin ke tempat penyimpanan baru, maupun cakram padat tidak pernah usai menyelesaikan masalah menurut saya. Karena file yang mengendap dan tak pernah terusik hanya akan menimbulkan masalah baru.

Ah, saya teringat kembali Disket Floppy. Drive A yang sudah dijadikan tribut. Hanya 1,4 megabit, dan kita tidak ribut. Atau flashdisk pertama yang saya pegang, milik seorang ahli IT di kampung saya. Sempat dikira sebagai korek api, flashdisk itu berkapasitas 128 megabit saja. Terasa sudah sangat lapang rasanya. Sekarang, semua hanyalah sesak yang membawa sesal.

Sebuah tribut untuk seorang teman yang baru saja membeli telepon pintar dan mengeluh tentang ruang penyimpanan 32gb yang begitu kecil baginya, seseorang yang dulu menggunakan produk Blackberry – Pondok Dewa Bharata – Denpasar | 8/6/2015

Iklan

Hujan

Rae Morris – Do you even know? (Unguarded, 2015)

Biasanya tengah hari disini terasa sangat terik. Hari ini berbeda, mengiringi tubuh yang lelah beristirahat, hujan turun. Erlend hanya diam dari lantai 2 kamar kosnya. Menatap butiran-butiran air yang turun bersamaan dari langit nan tetap cerah.

Ia merasakan kebahagiaan menerpa. Erlend teringat mimpinya semalam yang terasa acak. Erlend kembali ke bangku sekolah menengahnya dulu, dalam balutan baju pramuka, ia bisa membayangkan bahwa itu adalah hari sabtu. Tepat seperti hari ini.

Ah, hujan mulai pergi. Erlend mengingat Rani, satu-satunya wajah yang jelas tampak dalam mimpinya. Rani duduk dua bangku dari Erlend yang duduk sendiri di pojok belakang. Erlend adalah ketua kelas dan memilih duduk sendiri dibelakang selain karena jumlah siswa kelas yang berbilang ganjil, ia merasa bisa memperhatikan seisi ruangan dari tempatnya berada.

Erlend sendiri pula yang menyusun posisi teman-temannya satu kelas. Niah yang merupakan pacarnya saat itu di letakkan agak ke tengah. Alasannya, ia tak ingin terlihat setiap saat menggoda Niah yang pemalu. Lalu kenapa Rani yang hadir dalam mimpi Erlend tadi malam? Rani itu spesial ungkapnya. “Kami telah berteman semenjak sekolah dasar, dan semenjak itu pula aku suka dengannya” Erlend memulai gumamannya.

Hujan telah berhenti.

Dalam mimpi yang tiba-tiba tadi malam. Rani tampak tak bugar. Bagi seseorang yang tergabung dalam ekstrakurikuler basket, tentu hal ini tampak tak wajar. Dibandingkan dengan Erlend yang tak tergabung dengan kegiatan apapun diluar sekolah, maka Rani adalah kebalikannya, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan olahraga.

Erlend menghampiri Rani dalam mimpi itu. “Kamu kenapa?” tanya Erlend. “Aku nggak enak badan nih..” jawab Rani lirih. “Ya udah, minta izin pulang aja.. Mau aku anterin pulang?” Erlend menawarkan bantuan. “Ga usah, nanti aja, bentar lagi kan pulang..” Rani menolak. Sudah. Hanya itu kepingan mimpi semalam yang membuat Erlend masih tercenung siang ini.

Ia sudah terpisah jauh baik secara waktu maupun jarak dari teman-temannya sekolah dulu. Hubungannya dengan Niah berakhir tak lama menjelang pengumuman kelulusan SMA. Rani? Pasang surut keakraban mereka cukup acak, Erlend bahkan tak ingat apakah dulu sempat pamit sebelum meninggalkan kampung halaman. Beberapa kali bersua dalam ajang buka bersama, Rani hanya berlalu, Erlend pun tak berusaha menyapa.

Hujan yang turun sesaat tadi menghembuskan udara kebahagiaan. Tanah yang kering dan lelah, merasakan bulir air hujan yang turun melewati daun-daun yang tampak layu. Mimpi tadi bagi Erlend seperi basahan hujan yang akhirnya datang. Ia tengah berbahagia sendiri, tapi mimpi dan memori yang bergulir membawanya lebih jauh.

Pondok Dewa Bharata – Denpasar | 2/5/2015

Ok

Madeon – Ok (Adventure, 2015)

Melewati fase hidup penting dari bagian perjalanan panjang yang tak pernah kita ketahui kapan usainya. Hadir pilihan – pilihan berat yang harus di ambil. Melewati satu fase yang paling berat sekalipun tak menjadikan segalanya akan lebih mudah. Tapi satu hal yang jelas, akan ada masa dimana hati dan pikiran sudah bisa di ajak kompromi untuk menerima keadaan, dan hidup bahagia dengannya.

Keadaan ini cukup rumit untuk dituliskan panjang x lebar x tinggi. Tapi bisa diungkapkan dengan singkat, yakni “Ok”. Salah satu lagu DJ wonderkid asal Prancis, Madeon di album debutnya “Adventure” yang baru rilis beberapa minggu lalu setidaknya memberikan pengertian itu. Track instrumental ini berjudul “Ok” dan memperdengarkan kemampuan Madeon bermain dengan Novation Launchpad andalannya beserta potongan lirik “Ok” yang diulang-ulang.

Meski tak banyak memiliki kata, kadang soundtrack yang tepat untuk perasaan yang sulit diungkapkan adalah sebuah nomor instrumental. Ada keceriaan dan kelegaan pada lagu ini. Kita diajak untuk legowo saja. Toh, jika perjalanan ini tak kita ketahui ujungnya, kita jelas tahu bahwa “every road leads to an end”, hanya kita tak tahu kapan dan dimana. Ok, mari kita nikmati saja.

Saat kita tak lagi jadi pemberontak dan pembangkang alam semesta, kita diberikan pilihan baru untuk menjadi bagian darinya. Saat itu kita akan dituntun untuk memahami diri sendiri, Hidup tak begitu begitu saja rupanya. Maka coba putar “Ok” milik Madeon melalui duet alat-pemutar-lagu dan alat-pendengar dalam volume maksimal, naiki kendaraan sehari-hari, lewati jalan raya dengan terowongan di malam hari. Lantas lampu kota dan belaian udara membantu memahami segalanya.

Villa Lucy – Kerobokan – Seminyak | 25/4/2015

Sssst… Gila

Sore – Sssst… (Single, 2013)

20 Maret 2013 lalu, Sore yang kini menyisakan Ade Firza Paloh (Vocals/Guitar), Reza Dwiputranto (Guitar/Vocals), Awan Garnida (Bass/Vocals), dan Bemby Gusti (Keyboards/Drums) merilis single yang berjudul “Sssst…” melalui berbagai platform digital seperti iTunes, Amazon, Spotify, Google Play, Deezer, Nokia Play, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, 3 hari setelah dilepas, single ini sempat memuncaki Top Chart Itunes Store Indonesia, mengungguli single dari salah satu franchise ajang pencarian bakat.

3 tahun semenjak rilisan terakhir mereka, EP “Sombreros kiddos”, tentu single baru ini sangat banyak ditunggu penikmat musik tanah air.

Meski single ini memiliki kecenderungan efek “kegilaan” sesaat. Kenapa? Aransemen musik kali ini pun dapat menimbulkan adiksi, hanya dengan 2 kali dengar, lagu ini dapat menempel dikepala. Terasa begitu renyah, namu ketika mendengarkan lirik, kita kembali berkerut. Kurang lebih 19 kali kata “gila”diucapkan dengan manis, apa sebenarnya cerita lagu ini? Hanya keinginan untuk memutar kembalilah yang mampu meredakan pertanyaan di kepala. Dan ketika melihat artwork single ini yang menghadirkan botol racun serangga kenamaan, yang memiliki reputasi perenggut nyawa jiwa-jiwa kesepian, lengkap dengan lemon dan sedotan, menempatkan single ini sebagai lagu paling “gila”.

Formula “gila” ini terdiri dari lirik yang brillian, musik yang ringan, dan sebuah cengkok melayu yang membuat telinga orang Indonesia akan dengan cepat menangkap lagu ini. Tentu bukan yang mendayu-dayu. Jika cukup penasaran, silahkan unduh secara legal melalui kanal-kanal yang telah disediakan.

Demikianlah kawan, Sore kembali hadir dengan sebuah kesegaran melalui single ini, tentu rilisan album penuh akan sangat ditunggu setelah keberhasilan “Sssst…” menarik perhatian.


Lirik

Dan ku tau kau tak pernah bilang gila
dan tak pernah kau ku tau bilang gila
namun kau tak juga pernah bilang gila
tak kan pernah, tak kan pernah hilang jiwa

Diantara sejumlah bilang yang mengila
disamping kawan
jangan kau buang yang merasakan berjiwa
disamping lawan..

Dan sekarang semua rasa sudah gila
dan gilapun merasakan punya jiwa
namun kau tak pernah juga bilang gila
tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Diantara sejumlah bilang yang menggila
disamping kawan
jangan kau buang yang merasakan berjiwa
disamping lawan..

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Dan sekarang semua rasa sudah gila
dan gilapun merasakan punya jiwa
namun kau tak pernah juga bilang gila
tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Tulisan ini dipublikasikan tahun lalu di kanal webzine PadangOnstage. Single ini telah berumur satu tahun namun masih betah menemani daftarlagu pilihan.

Hari Toko Rekaman

18 April kembali riuh dengan peringatan “Hari Toko Rekaman”, kegiatan ini merupakan dedikasi atas jasa toko rekaman (kaset/cd/vinyl) dimasa lalu yang sempat menjadi bagian penting kebudayaan populer.  Ketika semua berubah menjadi digital, perilaku konsumen produk rekaman pun berubah.  Produk digital yang lebih murah dan praktis menjadi alasan generasi kini yg dikenal generasi z.

Mari kesampingkan perilaku pembajakan, karena itu merupakan pilihan konsumen sendiri. Dan produsen rekaman (musisi/label) tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya.  Saya sendiri beranggapan tidak semua manusia penikmat musik akan bergantung pada produk bajakan, selama pihak-pihak terkait mampu menjalankan fungsi edukasi pada khalayak baru.

Kenapa khalayak baru? Generasi saya dimana arus informasi tidak sederas sekarang, sebagai seorang remaja yang tinggal 100km dari ibukota propinsi saat itu, maka mustahil mendapatkan produk rekaman dengan mudah. Pedagang kaset tape hanya singgah 1x seminggu di kecamatan kecil kami. Tentu dengan rilisan yang terbatas pula. Tapi ketahuilah, akan selalu ada niat untuk memberikan apresiasi kepada musisi entah apapun bentuknya.

Berbeda dengan khalayak baru atau generasi sekarang ketika mereka remaja, internet bahkan telah hadir dalam genggaman tangan. Generasi ini mungkin merasa produk musik yang betebaran di dunia maya, benar-benar dalam bentuk produk legal meski mereka mengunduh dengan menggunakan kata kunci “download lagu d’massiv – cinta ini membunuhku gratis”.

Peringatan Hari Toko Rekaman tahun ini semakin meriah dengan adanya 16 kota di Indonesia yang ikut merayakan 18 April 2015 (Rolling Stone Indonesia). Tak masuk dalam daftar tersebut, skena lokal 2 kota dari kampung halaman pun tak ketinggalan (PadangOnStage). Sementara di Bali sendiri acara berpusat minimalis di Taman Baca Kesiman.

Sukses? Saya tidak dalam kapasitas yang akan menilai kesuksesan perayaan ini, toh saya tak ambil bagian didalamnya, bahkan tak ikut hadir. Namun menjadi satu catatan tersendiri bahwa perayaan ini berawal dari sebuah gerakan-gerakan dalam skena lokal dan menderu menjadi gerakan nasional, menular hingga ke kota-kota sekunder Indonesia.

Manfaat yang dapat dirasakan tentunya menjadi ajang pembuka cakrawala generasi kekinian bahwa produk rekaman itu nyata lho. Tak hanya dalam bentuk bit-bit digital dengan ukuran “Kbps”.  Dari tulisan Felix Dass yang juga menjadi pemandu salah satu program di #RSD2015 Jakarta, “terdapat 90 praktisi records yang ikut membuka booth pada gelaran tersebut”. Memang benar, label rekaman mendadak menjamur, fenomena ini disebut dalam salah satu artikel majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari sebagai “label rekaman butik”.

Label rekaman butik menjadi harapan tersendiri untuk seluruh bagian industri musik. Dengan banyaknya produsen, maka konsumen akan lebih banyak mendapatkan pilihan bukan. Lalu musisi pun bisa mendapat kesempatan yang lebih jika label rekaman semakin banyak. Meski blog Techinasia sempat menulis bahwa “Startup Sebaiknya Tidak Masuk ke Industri Musik” pada tahun 2013 lalu, namun kita bisa lihat prediksi ini tidak sepenuhnya menyurutkan semangat pemuda-pemudi Indonesia untuk ambil bagian dalam industri musik.

Saya memang tidak ambil bagian, setidaknya dinihari 18 april, saya memilih bernostalgia di linimasa bersama teman-teman tentang bagaimana kami dahulu menikmati sebuah rilisan musik. Kini pertanyaan selanjutnya, bagaimana industri musik kita akan bertahan? Atau minimal kita harus siap jika tulisan di FactMag ini terjadi di skena lokal kita yang sedang penuh gairah.

ditulis marathon melalui apps wordpress iphone – sebelum dituntaskan melalui desktop | denpasar – 21/4/2015

Bumerang

Tulus – Bumerang (Gajah, 2015)

Belum genap satu bulan, aku menjejakkan kaki di pulau dewata. Memulai langkah kakiku yang baru. Memulai hidupku yang baru. Meninggalkan semua kejayaan dibelakang, menjadi bukan siapa-siapa di negeri orang. Linda, begitulah panggilannya. Aku mendengar terlebih dahulu nama itu dari rekan kerja di lingkungan baruku. “Nanti akan ada anak training baru, namanya Linda, kamu nanti ketemu sendiri. Dia sudah pernah bekerja disini, tapi resign beberapa bulan lalu karena orang tuanya sakit”. Tidak ada sedikitpun ketertarikanku atas cerita itu.

Hingga akhirnya Linda datang, tubuhnya yang mungil membuat diriku sedikit mengabaikan kehadirannya. Karena selain Linda juga ada satu orang lagi yang juga dalam masa training. Kalau menurut pengakuannya, aku cukup pongah saat itu. Tidak Linda, bukan itu maksudku. Seketika perasaan ini berubah saat aku mendapat giliran untuk mendampingi Linda training. Dia begitu nyata rupanya. Penuh keceriaan, gelak tawanya sungguh akan membuat siapapun yang mendengar dari kejauhan akan penasaran. Linda tak pernah berusaha untuk menjaga sikapnya. Dia menjadi dirinya sendiri, apa adanya.

Pelatihan itu berlanjut dengan obrolan-obrolan panjang beberapa hari kemudian. Kami bertemu diluar kantor. Kami tak terpisahkan melalui aplikasi berbagi pesan telepon pintar. Linda ternyata berzodiak yang sama denganku, scorpio. Terkadang sikap dan tindak tanduknya, mengingatkanku pada sikapku sendiri. Bisa jadi itu juga yang membuat perkenalan singkat ini menjadi seperti begitu mudah. Aku sendiri adalah scorpio yang akan memberikan dedikasi spesial untuk seseorang nan spesial. Kuselipkan notes dibawah meja kerjanya. Kutitipkan salam melalui temannya. Kumasukkan hadiah ke dalam tas tanpa sepengetahuannya. Perbedaan umur 8 tahun membuat ia seperti diriku yang riang dulu. Terkadang Linda tak bs kutemukan, tak membalas chat, tak ada kabar. Lalu ia hadir kembali dan akupun tak berusaha tahu.

Suatu malam ia mengeluh, kiriman dari orang tua masih belum tiba. Linda baru makan tadi pagi. Aku bergegas dari kamar kost, membelikan sup kesukaannya. Setibanya didepan kantor, aku menghubunginya. Teleponku tak berbalas, dan aku melihat ia menghampiri seorang pria di teras, memegang tangannya dengan manja. Aku membawa bungkusan itu ke toko sebelah kantor, dan memberikannya pada penjaga toko yang memang sudah kukenal. Tak sedikitpun ku lirik ke arah Linda, aku berbalik dan pulang menuju kost-an. Saat itu aku ingat, scorpio pun adalah seorang yang setia dengan pasangan dan tak mudah meninggalkannya.

pondok dewa bharata | denpasar – 12/3/2015

senandung rindu

weezer – across the sea (pinkerton, 1996)

Mari lupakan sejenak cerita utuh lagu ciptaan Rivers Cuomo ini. Secara pribadi, potongan lirik maupun nada lagu ini cukup mewakili perasaan rindu yang membuncah. Dengarkan bagian akhir penuh amarah, distorsi gitar semakin menggaruk, sementara drum berontak tak hentik digebuk.

Meski dibuka dengan manis, sebuah intro piano dan suara lembut Cuomo. Seperti itulah rasa rindu digambarkan, awalnya menyunggingkan senyum, kelamaan mulai mengesalkan. Bayangkan saja jika memang terpisahkan lautan seperti judul lagu ini dengan yang sedang dirindukan. Keluarga, teman, siapa saja. Maka cerita lagu ini tentang surat yang diterima Cuomo dari penggemarnya di Jepang terasa berbeda.

Lalu kenapa perasaan yang diungkap bisa sama. Cuomo saat itu tengah depresi dan kesepian ditengah tuntutan album kedua. Lihat saja album Pinkerton yang memiliki progresi kord rumit ini sebagai bukti tengah ruwetnya pikiran sang komposer.

Ketika bagian “Why are you so far away from me? I need help and you’re way across the sea” dinyanyikan maka menjadi relevan dengan siapa saja yang tengah dilanda rindu, walaupun tidak benar-benar diseberang lautan, karna bisa saja hanya dibatasi sebuah bantal guling namun terasa jauhnya.

Atau memang sebenar-benarnya merindukan keluarga yang menempuh 2 kali ferry penyebrangan. Bisa saja merindukan teman-teman di pulau sebelah.

Ya, benar. Saya tengah rindu keluarga dan teman-teman.

pondok dewa bharata | denpasar – 18/4/2015