Tak bahagia maka bercerita

Memang ada hasil penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang yang merasa dirinya bahagia, maka ia tak lagi riuh di berbagai sosial media. Karna ia tak lagi gelisah dan merasa tak perlu berbagi “kebahagiaan”, semua telah berkecukupan.

Awalnya saya menantang hal itu. Namun ternyata ada benarnya juga. Saya tak banyak menulis di blog ini, maupun di sosial media lainnya. Saya bahagia? Entahlah, saya juga tak berusaha mengira-ngira. Saya rasa biasa saja.

Tapi sekali lagi saya hendak mematahkan teori tersebut, susah juga memang. 2 minggu saya coba mencari-cari bahan untuk ditulis. Nihil. Sepertinya saya harus kembali baper, atau galau. Maka tadi secara tidak sengaja saya menemukan pemantiknya, tak sengaja lagu “Adele – All I Ask” terdengar.

Kesampingkan sejenak fakta bahwa Adele memang meraung-raung sepanjang lagu. Saya hanya terfokus pada kata penutup “What if i never love again?”. Saya merasakan diri ini tengah mengawang. Sedang luka? entahlah, bahagia? entahlah. Dan ketika pertanyaan “bagaimana jika ku tak pernah mencintai lagi?” menjadi relevan.

Pertanyaan ini telak sekali.

Mungkin saya tak pernah mencintai lagi,

Saya hanya perlu menulis kembali.

Menulis tentang kamu, yang (akan) menjadi lembaran baru hidupku.

Padang – 4/3/2016

*tulisan ini hanya pemantik, maklum tuts keyboard mulai berkabut.

Iklan

Pulang Karena Ruang

Tak hanya wipol (sejenis karbol), bahkan saya harus menggunakan vixal (mengandung HCL) hingga blog ini bersih dari lumut setelah ditinggalkan hampir 2 bulan. Tak terurus, berbau.

Semenjak saya memutuskan pulang dari pengembaraan (??), saya malah makin nomaden. Saya memang tidak pindah dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Namun jarak tempuh rumah (SJJ) dengan Ibu Kota provinsi (PDG) memang membutuhkan (hampir) 3 jam perjalanan, hingga saya harus bolak-balik satu kali seminggu. 

Kesibukan ini semakin memuncak saat kedua orang tua masih menunaikan ibadah di tanah suci, berlapis inisiasi yang hendak di kerjakan, dan helat kenduri sepupu yang hanya memberi waktu 3 minggu persiapan.

Hasilnya? Lelah sangat. Belum bisa fokus. Satu-satunya harapan yang diimpikan adalah kemampuan membelah diri ala makhluk bersel satu, amoeba. Puncaknya ketika tambatan hati harus mempertanyakan perhatian yang dapat diberikan. Syukurlah ia bisa mengerti.

Sebuah refleksi setelah lebih kurang 3 bulan pulang adalah ruang sebagai alasan utama yang membuat betah. Awalnya hanya prediksi, setelah saya coba sendiri, ruang yang kini ada di Kota Padang, memungkinkan ide-ide liar bergelora, tak ada yang tak mungkin!

Bulan ini akhirnya dapat menghela napas, jadwal kembali disusun. Jika hendak dikategorikan, maka 3 bulan awal adalah observasi, kini memasuki tahap eksplorasi. Menggali lebih dalam tentang ide-ide yang ada.

Memang uang bukanlah jawaban, saya tak pernah menyesal dengan alasan “karena ruang saya pulang”.

18 | okt | 15

Ditulis marathon sebelum mandi.

*andaleh | padang

Sepi Saja

Riuh rendah keramaian kota kedua ini menyapa.
Rasa-rasanya ia adalah rumah yang ku duga.
Namun kini malah ragu tampak berupa.

ERK pun sempat bertanya hal yang sama “Dimana terang yang kau janjikan, aku kesepian..”*
Atas segala gelak dan canda disekeliling raga, aku malah merasa tak berdaya.
Jika memang percik harap muncul pada kesempatan entah ke berapa ini,
aku malah ingin ingkar terhadapnya.

Aku harus mendebat kalimat ERK yang sempat ku puja,
“Murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah..”**
Fakta bahwa kita berdua kembali bertegur sapa, seharusnya membuatku bahagia,
tapi hari ini tidak ku rasa.

Jika memang dirimu mencibir cerita hidupku terdahulu, aku tak bisa bela setiap bagiannya.
Aku beranggapan ini adalah saat dimana ketuk tunggal bagian snare pada akhir “Lagu Kesepian” milik ERK sebelumnya.
Tegas dan memberikan klimaks.

Maaf ya, aku tak sempurna.
Mungkin aku hanya kesepian saja.
Riuh keramaian tak lagi membuat tentram,
aku mungkin mau berdua saja.

Padang, 30/7/2015
*Efek Rumah Kaca – Lagu Kesepian (2008)
**Efek Rumah Kaca – Melankolia (2007)

Jomblo adalah Sebuah Status Magang

Predikat jomblo hadir setelah 5 tahun berkelindan dengan seseorang yang kini dilabeli mantan. Atau jika lebih tragis adalah 5 hari romantis bersama gadis yang juga akhirnya berakhir tragis dan traumatis. Lantas jomblo adalah jalan hidup yang akan dilalui selanjutnya. Jalan ini terjal. Banyak hambatan berjejal. Dan jika hati tak cukup bebal, maka sesal dapat berujung fatal.

Layaknya melewati tapak-tapak anak tangga. Energi yang selama ini dipikul berdua dalam filosofi “dunia milik kita, berdua saja” mendadak serasa harus dibakul sendiri. Langkah-langkah awal tampak berat. Ada suatu masa dimana perasaan sesal menyentuh moral, hingga harus membebani diri dengan pertanyaan “apakah dia baik-baik saja?”. Lalu seketika bisa berubah menjadi rasa kesal seperti koral saat sang mantan memilih berlabuh ke sandaran yang lain dalam jarak 1 bulan perpisahan. Iya, kita tak bisa menyalahkan cinta, karena konon ia bisa datang tak tepat waktu.

Anggaplah kita akhirnya melewati tahap pertama tersebut. Sebut saja move on. Secara perlahan akhirnya kita bisa membuka diri pada kehadiran sekitar. Maka langkah berikut yang harus dihadapi adalah gejala seperti baper yang bisa berakhir pada dua pilihan friendzone atau php. Sebagai individu yang berusaha untuk teguh dengan pendiriannya, ada sebuah kegagapan yang membuat tidak mudah untuk kembali menjalin hubungan.

Jika ia bisa dengan semena-mena move on dan jadian. Kenapa kita harus tetap jomblo? Satu yang telak saya pelajari, bahwa sesungguhnya jomblo adalah pilihan. Bukan berarti tidak ada ketertarikan. Namun memang sedang tidak mau saja. Bahwa cukup petuah ibunda jika “jodoh sudah ada yang ngatur” dijadikan pedoman menjalani hari.

Jomblo berarti memberikan kebebasan pada diri, tanpa harus berkompromi. Jomblo itu belajar mencintai diri sendiri hingga suatu saat nanti jika memang bertemu dengan jodoh yang telah diatur, kita tak perlu menyesal dan melantur. Bahwa hati yang konon dianggap sepi dikala sendiri ini pernah kita isi dengan mimpi pribadi tanpa harus dibagi.

Jika memang anda (jomblowan dan jomblowati) setuju, maka anda akan setuju dengan judul diatas; jomblo adalah sebuah status magang. Dimana kita akan belajar mencintai diri sendiri secara sukarela tanpa ada harap imbalan sesuatu. Ketika kita akan gagal pada fase pedekate berujung baper, friendzone berakhir php, kita tak perlu sesal karena kita berstatus magang. Kita dibawah naungan mentor yang tak lain adalah diri kita sendiri.

Seperti karyawan magang pada umumnya. Kita akan melakukan hal remeh-temeh dibagian awal. Membelikan makan siang yang lebih senior, memfotokopi KTP Pak Bos ke seberang jalan, dan lain sebagainya. Jika kita gigih, kelak kita sebagai karyawan magang pelan-pelan mulai diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai pribadi yang magang pun kita bisa menikmati apa yang tengah dijalani, untuk mendapatkan sebuah pengalaman yang kelak kan kita kenang.

Mungkin pertanyaan selanjutnya hanyalah, sampai kapan saya dan kita yang membaca tulisan ini akan magang?

Shift malam – HBH | 25/6/2015

Sesak Digital

Entah sejak kapan hal ini terjadi. Dulu saya sempat berseloroh bersama teman-teman di Bandung ketika melihat Plat B menjejali jalanan kota dan parkiran factory outlet Kota Kembang di akhir pekan. Kami berpendapat, mereka yang kerap datang memiliki lemari pakaian begitu besar, hingga dituntut untuk membelanjakan hasil peluh dalam bentuk cadangan sandang yang tak usai-usai.

Dalam dunia yang semakin digital, ruang penyimpanan (hardisk, storage) pun terus kita jejali dengan berbagai macam hal. Telepon pintar merk Apple kini bahkan tersedia dengan 128gb, atau keluarga Android yang memberikan slot tambahan penyimpanan, hingga kita bisa menambah sendiri sesuai keinginan, sesuai kemampuan.

Ribuan hasil jepretan foto di telepon pintar ini beberapa akan kita unggah ke berbagai media sosial, ada yang menjadi favorit dan berubah nama menjadi avatar. Sisanya? Mengendap, menunggu waktu luang yang sepertinya semakin sedikit karena kita sibuk mengamati linimasa, atau meladeni curahan hati kawan yang menunggu pinangan kekasih hatinya.

Itu baru foto, belum lagi puluhan aplikasi dan permainan yang berjejalan didalam telepon genggam kita hari ini. Semuanya terpakai? Belum tentu, beberapa mungkin diunduh karena aplikasi tersebut sedang gratis pada hari tertentu. Beberapa permainan pun tak lagi tersentuh karena kawan tak ada lagi yang memainkan aplikasi tersebut.

Informasi saja kini terasa sesak, ada beberapa telah kita tandai di peramban kesayangan. Beberapa kita salin pada aplikasi pencatat digital. Beberapa kita kirimkan ke aplikasi lain yang konon katanya memudahkan kita untuk membacanya nanti ketika sudah ada waktu luang. Apakah kelak akan benar-benar dibaca? Entahlah, seringnya saya sendiri lupa.

Semua foto dan aplikasi tersebut menghabiskan ruang penyimpanan tidak sedikit. Awalnya kita akan berbangga memiliki telepon pintar dengan kamera unggulan. Kelak kita akan teringat kembali betapa rampingnya ukuran sebuah foto hasil jepretan kamera VGA, zaman Nokia masih digdaya.

Setiap orang memiliki batasan sendiri menghadapi kesesakan digital ini. Ada yang tega, tanpa ragu hapus saja. Saya termasuk yang “dibuang sayang”. Sejelek apapun fotonya, saya masih menyimpannya (kecuali memang foto yang menyebabkan luka, sudah saya hapus saja). Lantas ketika ruang penyimpanan telepon pintar semakin penuh, maka menyalinnya ke komputer adalah salah satu jalan. Layaknya virus yang mewabah, sesak digital tadi pun merambah ke komputer pribadi.

Komputer pribadi ditakdirkan dengan ruang penyimpanan lebih luas dibanding telepon pintar tentunya. Tapi tentu komputer pribadi sudah punya masalah sendiri dengan ruang penyimpanan ini. Bergiga-giga bit lagu musisi kesayangan yang telah dikonversi dari cakram padat menjadi versi digital sudah barang pasti ada di komputer pribadi + komputer jinjing. Belum termasuk koleksi unduh ilegal film-film hollywood hasil buruan tengah malam. Kadang ada film yang jelek namun tetap saja masih disimpan, karena usaha menahan kantuk menunggu unduh selesai tentu tak mau diberangus begitu saja dengan kombinasi shift+del.

Ketika sesak itu memuncak, akan ada peringatan tentang low memory di komputer pribadi. Atau kita tak bisa lagi menjepret momen matahari tenggelam karena telepon pintar kita mulai menjerit tentang ruang penyimpanan yang penuh. Lalu hari akan dihabiskan dengan memilah-milah mana yang perlu dihapus mana yang tidak. Kadang memori yang telah ditinggal kembali hadir ketika melihat beberapa foto lama, atau film-film tahun lalu yang ditonton bersama(nya).

Teknologi tak mau ketinggalan, komputasi awan bermaksud menjadi jalan tengah. Alih-alih duplikasi pada setiap ruang penyimpanan yang kini begitu berharga, ruang penyimpanan-awan (cloud storage) bermaksud memudahkan kita dan menambah ruang. Gratis diawal, ketika mulai sesak, maka ada biaya lanjutan untuk penyewaan. Begitu juga halnya jika kita cukup malas untuk memilah-milah mana yang akan tetap disimpan dan dihapus di komputer pribadi, beli saja lemari tambahan (hardisk external), ya sebut sajalah begitu. Sebelum akhirnya kita jejali kembali, dan penuh lagi (dan lagi).

Sesak digital berbeda dengan kesesakan di lemari baju kita, baju yang tak lagi muat, atau sudah jarang dipakai bisa kita bagikan untuk yang membutuhkan. Sesak digital memberikan 2 pilihan, simpan atau hapus, itu saja menurut saya. Menyalin ke tempat penyimpanan baru, maupun cakram padat tidak pernah usai menyelesaikan masalah menurut saya. Karena file yang mengendap dan tak pernah terusik hanya akan menimbulkan masalah baru.

Ah, saya teringat kembali Disket Floppy. Drive A yang sudah dijadikan tribut. Hanya 1,4 megabit, dan kita tidak ribut. Atau flashdisk pertama yang saya pegang, milik seorang ahli IT di kampung saya. Sempat dikira sebagai korek api, flashdisk itu berkapasitas 128 megabit saja. Terasa sudah sangat lapang rasanya. Sekarang, semua hanyalah sesak yang membawa sesal.

Sebuah tribut untuk seorang teman yang baru saja membeli telepon pintar dan mengeluh tentang ruang penyimpanan 32gb yang begitu kecil baginya, seseorang yang dulu menggunakan produk Blackberry – Pondok Dewa Bharata – Denpasar | 8/6/2015

Embed from Getty Images

Hari Toko Rekaman

Embed from Getty Images

18 April kembali riuh dengan peringatan “Hari Toko Rekaman”, kegiatan ini merupakan dedikasi atas jasa toko rekaman (kaset/cd/vinyl) dimasa lalu yang sempat menjadi bagian penting kebudayaan populer.  Ketika semua berubah menjadi digital, perilaku konsumen produk rekaman pun berubah.  Produk digital yang lebih murah dan praktis menjadi alasan generasi kini yg dikenal generasi z.

Mari kesampingkan perilaku pembajakan, karena itu merupakan pilihan konsumen sendiri. Dan produsen rekaman (musisi/label) tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya.  Saya sendiri beranggapan tidak semua manusia penikmat musik akan bergantung pada produk bajakan, selama pihak-pihak terkait mampu menjalankan fungsi edukasi pada khalayak baru.

Kenapa khalayak baru? Generasi saya dimana arus informasi tidak sederas sekarang, sebagai seorang remaja yang tinggal 100km dari ibukota propinsi saat itu, maka mustahil mendapatkan produk rekaman dengan mudah. Pedagang kaset tape hanya singgah 1x seminggu di kecamatan kecil kami. Tentu dengan rilisan yang terbatas pula. Tapi ketahuilah, akan selalu ada niat untuk memberikan apresiasi kepada musisi entah apapun bentuknya.

Berbeda dengan khalayak baru atau generasi sekarang ketika mereka remaja, internet bahkan telah hadir dalam genggaman tangan. Generasi ini mungkin merasa produk musik yang betebaran di dunia maya, benar-benar dalam bentuk produk legal meski mereka mengunduh dengan menggunakan kata kunci “download lagu d’massiv – cinta ini membunuhku gratis”.

Peringatan Hari Toko Rekaman tahun ini semakin meriah dengan adanya 16 kota di Indonesia yang ikut merayakan 18 April 2015 (Rolling Stone Indonesia). Tak masuk dalam daftar tersebut, skena lokal 2 kota dari kampung halaman pun tak ketinggalan (PadangOnStage). Sementara di Bali sendiri acara berpusat minimalis di Taman Baca Kesiman.

Sukses? Saya tidak dalam kapasitas yang akan menilai kesuksesan perayaan ini, toh saya tak ambil bagian didalamnya, bahkan tak ikut hadir. Namun menjadi satu catatan tersendiri bahwa perayaan ini berawal dari sebuah gerakan-gerakan dalam skena lokal dan menderu menjadi gerakan nasional, menular hingga ke kota-kota sekunder Indonesia.

Manfaat yang dapat dirasakan tentunya menjadi ajang pembuka cakrawala generasi kekinian bahwa produk rekaman itu nyata lho. Tak hanya dalam bentuk bit-bit digital dengan ukuran “Kbps”.  Dari tulisan Felix Dass yang juga menjadi pemandu salah satu program di #RSD2015 Jakarta, “terdapat 90 praktisi records yang ikut membuka booth pada gelaran tersebut”. Memang benar, label rekaman mendadak menjamur, fenomena ini disebut dalam salah satu artikel majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari sebagai “label rekaman butik”.

Label rekaman butik menjadi harapan tersendiri untuk seluruh bagian industri musik. Dengan banyaknya produsen, maka konsumen akan lebih banyak mendapatkan pilihan bukan. Lalu musisi pun bisa mendapat kesempatan yang lebih jika label rekaman semakin banyak. Meski blog Techinasia sempat menulis bahwa “Startup Sebaiknya Tidak Masuk ke Industri Musik” pada tahun 2013 lalu, namun kita bisa lihat prediksi ini tidak sepenuhnya menyurutkan semangat pemuda-pemudi Indonesia untuk ambil bagian dalam industri musik.

Saya memang tidak ambil bagian, setidaknya dinihari 18 april, saya memilih bernostalgia di linimasa bersama teman-teman tentang bagaimana kami dahulu menikmati sebuah rilisan musik. Kini pertanyaan selanjutnya, bagaimana industri musik kita akan bertahan? Atau minimal kita harus siap jika tulisan di FactMag ini terjadi di skena lokal kita yang sedang penuh gairah.

ditulis marathon melalui apps wordpress iphone – sebelum dituntaskan melalui desktop | denpasar – 21/4/2015

>play

Dari sembilan tahun yang lalu mengenal internet secara intens, selalu menjadi kegagalan adalah membuat blog pribadi. Waktu terkuras oleh masalah teknis seperti; domain, hosting, tema, plugin, dll. Menghidari kegagalan yang sama, maka tahun ini memilih untuk menjadikan nyata rencana yang selalu tertunda. Cukup pakai layanan gratisan sajalah.

Blog ini didedikasikan untuk diri sendiri, tempat berlatih menulis secara sporadis.