Tak bahagia maka bercerita

Memang ada hasil penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang yang merasa dirinya bahagia, maka ia tak lagi riuh di berbagai sosial media. Karna ia tak lagi gelisah dan merasa tak perlu berbagi “kebahagiaan”, semua telah berkecukupan.

Awalnya saya menantang hal itu. Namun ternyata ada benarnya juga. Saya tak banyak menulis di blog ini, maupun di sosial media lainnya. Saya bahagia? Entahlah, saya juga tak berusaha mengira-ngira. Saya rasa biasa saja.

Tapi sekali lagi saya hendak mematahkan teori tersebut, susah juga memang. 2 minggu saya coba mencari-cari bahan untuk ditulis. Nihil. Sepertinya saya harus kembali baper, atau galau. Maka tadi secara tidak sengaja saya menemukan pemantiknya, tak sengaja lagu “Adele – All I Ask” terdengar.

Kesampingkan sejenak fakta bahwa Adele memang meraung-raung sepanjang lagu. Saya hanya terfokus pada kata penutup “What if i never love again?”. Saya merasakan diri ini tengah mengawang. Sedang luka? entahlah, bahagia? entahlah. Dan ketika pertanyaan “bagaimana jika ku tak pernah mencintai lagi?” menjadi relevan.

Pertanyaan ini telak sekali.

Mungkin saya tak pernah mencintai lagi,

Saya hanya perlu menulis kembali.

Menulis tentang kamu, yang (akan) menjadi lembaran baru hidupku.

Padang – 4/3/2016

*tulisan ini hanya pemantik, maklum tuts keyboard mulai berkabut.

Iklan

Jatuh Bebas

John Mayer – Free Fallin’ (Where The Light Is, 2008)

Embed from Getty Images

Entah apa yang ada dipikiran Tom Petty ketika menuliskan “Free Fallin’”. Lagu akustik cheesy dari debut albumnya. Namun justru lagu yang dinyanyikan seperti setengah hati ini adalah salah satu hits terbaiknya. Oh, saya tidaklah bagian dari generasi yang mendengarkan lagu ini. Namun saya terhanyut dari versi cover yang dibawakan John Mayer (Bukan Sabrina, camkan itu!).

John Mayer ini adalah masa peralihan saya. Sebuah titik perubahan menjelang kedewasaan. Setelah mendayu-dayu bersama kumpulan lelaki yang menari dan bernyanyi bersama (yups, boyband, saya mengakui itu). Kegelisahan remaja menumpuk dan saya memilih musik metal sebagai salah satu jalan keluar. Usai keriuhan itu, John Mayer datang.

Tuduh saja saya penggemar berat. Tapi sungguh saya mengetahui dari banyak detail lelaki flamboyan ini. Gaya bernyanyi. Gaya berpakaian. Yes, i’m one of his fanboy! Ketika akhirnya Mayer merilis sebuah album live bertajuk “Where The Light Is”, saya bisa merasakan bagaimana perubahan “branding” Mayer semenjak awal. Dalam konser di Los Angeles (2008) itu kita bisa lihat rangkuman sisi musikalitas John Mayer.

Satu lagu yang terselip dalam album itu ada disesi akustik awal. Lagu “Free Fallin’” yang saya bahas di paragraf pembuka. Hari ini, lagu itu berbicara melalui saya. 7 tahun setelah saya mendengarkannya pertama kali, justru hari ini saya merasa “jatuh bebas”. Bukan ketika saya patah hati berkeping-keping. Hari ini, 5 Juli 2015.

Petikan gitar akustik yang lembut itu bersambut suara pelemah iman milik John Mayer, dengan latar suara penonton yang meleleh karenanya. Kisahmu dan kisahku yang bertautan secara tak sengaja sungguh seperti cerita lagu ini. Kamu adalah gadis yang baik, dan aku hanyalah lelaki jahat yang meninggalkanmu. Tapi seperti aku ceritakan berkali-kali. Bahwa tak ada sekalipun sakit hati yang kamu jejakkan di tempatku. Kenyataan yang membuat kita harus terpisah sekarang, membuatku jatuh bebas pada ketiadaan.

Saya tidak sedih terhanyut. John Mayer meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin karena John memisahkan dua kata utama lagu ini. “Free” ia sampaikan dengan menggambarkan ada kebebasan yang menanti didepan. Dan pada bagian “Fallin’” kendati bermakna jatuh (negatif), tapi ini adalah sebaik-baiknya jatuh. Jatuh bebas pada ketiadaan.

Seketika saya harus berterimakasih pada Tom Petty dan Jeff Lynne atas lirik yang indah ini. Namun tetaplah John Mayer yang menyampaikan dengan begitu sempurna pada saya. Thx John. Dan untuk dirimu yang berjanji tak membaca tulisanku, ketika akhirnya kamu membaca tulisan ini. Ketahuilah bahwa begitu banyak yang dapat terjadi kelak nanti, mungkin aku tak berani berjanji, tapi aku hanya tak ingin ingkari. Percaya saja, suatu hari, kita bertemu kembali.

*Duduk di ruang tunggu bandara, aku tak meninggalkanmu, aku memberikanmu waktu – Ngurah Rai Airport | 5/7/2015

“Free Fallin'”

She’s a good girl, loves her mama
Loves Jesus and America too
She’s a good girl, crazy ’bout Elvis
Loves horses and her boyfriend too

It’s a long day livin’ in Reseda
There’s a freeway runnin’ through the yard
And I’m a bad boy, ’cause I don’t even miss her
I’m a bad boy for breakin’ her heart

[Chorus:]
And I’m free, I’m free fallin’

All the vampires walkin’ through the valley
Move west down Ventura Blvd.
And all the bad boys are standing in the shadows
All the good girls are home with broken hearts

[Chorus]

I wanna glide down over Mulholland
I wanna write her name in the sky
I wanna free fall out into nothin’
Gonna leave this world for awhile

[Chorus]

Ok

Madeon – Ok (Adventure, 2015)

Melewati fase hidup penting dari bagian perjalanan panjang yang tak pernah kita ketahui kapan usainya. Hadir pilihan – pilihan berat yang harus di ambil. Melewati satu fase yang paling berat sekalipun tak menjadikan segalanya akan lebih mudah. Tapi satu hal yang jelas, akan ada masa dimana hati dan pikiran sudah bisa di ajak kompromi untuk menerima keadaan, dan hidup bahagia dengannya.

Keadaan ini cukup rumit untuk dituliskan panjang x lebar x tinggi. Tapi bisa diungkapkan dengan singkat, yakni “Ok”. Salah satu lagu DJ wonderkid asal Prancis, Madeon di album debutnya “Adventure” yang baru rilis beberapa minggu lalu setidaknya memberikan pengertian itu. Track instrumental ini berjudul “Ok” dan memperdengarkan kemampuan Madeon bermain dengan Novation Launchpad andalannya beserta potongan lirik “Ok” yang diulang-ulang.

Meski tak banyak memiliki kata, kadang soundtrack yang tepat untuk perasaan yang sulit diungkapkan adalah sebuah nomor instrumental. Ada keceriaan dan kelegaan pada lagu ini. Kita diajak untuk legowo saja. Toh, jika perjalanan ini tak kita ketahui ujungnya, kita jelas tahu bahwa “every road leads to an end”, hanya kita tak tahu kapan dan dimana. Ok, mari kita nikmati saja.

Saat kita tak lagi jadi pemberontak dan pembangkang alam semesta, kita diberikan pilihan baru untuk menjadi bagian darinya. Saat itu kita akan dituntun untuk memahami diri sendiri, Hidup tak begitu begitu saja rupanya. Maka coba putar “Ok” milik Madeon melalui duet alat-pemutar-lagu dan alat-pendengar dalam volume maksimal, naiki kendaraan sehari-hari, lewati jalan raya dengan terowongan di malam hari. Lantas lampu kota dan belaian udara membantu memahami segalanya.

Villa Lucy – Kerobokan – Seminyak | 25/4/2015

Sssst… Gila

Sore – Sssst… (Single, 2013)

20 Maret 2013 lalu, Sore yang kini menyisakan Ade Firza Paloh (Vocals/Guitar), Reza Dwiputranto (Guitar/Vocals), Awan Garnida (Bass/Vocals), dan Bemby Gusti (Keyboards/Drums) merilis single yang berjudul “Sssst…” melalui berbagai platform digital seperti iTunes, Amazon, Spotify, Google Play, Deezer, Nokia Play, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, 3 hari setelah dilepas, single ini sempat memuncaki Top Chart Itunes Store Indonesia, mengungguli single dari salah satu franchise ajang pencarian bakat.

3 tahun semenjak rilisan terakhir mereka, EP “Sombreros kiddos”, tentu single baru ini sangat banyak ditunggu penikmat musik tanah air.

Meski single ini memiliki kecenderungan efek “kegilaan” sesaat. Kenapa? Aransemen musik kali ini pun dapat menimbulkan adiksi, hanya dengan 2 kali dengar, lagu ini dapat menempel dikepala. Terasa begitu renyah, namu ketika mendengarkan lirik, kita kembali berkerut. Kurang lebih 19 kali kata “gila”diucapkan dengan manis, apa sebenarnya cerita lagu ini? Hanya keinginan untuk memutar kembalilah yang mampu meredakan pertanyaan di kepala. Dan ketika melihat artwork single ini yang menghadirkan botol racun serangga kenamaan, yang memiliki reputasi perenggut nyawa jiwa-jiwa kesepian, lengkap dengan lemon dan sedotan, menempatkan single ini sebagai lagu paling “gila”.

Formula “gila” ini terdiri dari lirik yang brillian, musik yang ringan, dan sebuah cengkok melayu yang membuat telinga orang Indonesia akan dengan cepat menangkap lagu ini. Tentu bukan yang mendayu-dayu. Jika cukup penasaran, silahkan unduh secara legal melalui kanal-kanal yang telah disediakan.

Demikianlah kawan, Sore kembali hadir dengan sebuah kesegaran melalui single ini, tentu rilisan album penuh akan sangat ditunggu setelah keberhasilan “Sssst…” menarik perhatian.

Embed from Getty Images
Lirik

Dan ku tau kau tak pernah bilang gila
dan tak pernah kau ku tau bilang gila
namun kau tak juga pernah bilang gila
tak kan pernah, tak kan pernah hilang jiwa

Diantara sejumlah bilang yang mengila
disamping kawan
jangan kau buang yang merasakan berjiwa
disamping lawan..

Dan sekarang semua rasa sudah gila
dan gilapun merasakan punya jiwa
namun kau tak pernah juga bilang gila
tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Diantara sejumlah bilang yang menggila
disamping kawan
jangan kau buang yang merasakan berjiwa
disamping lawan..

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Dan sekarang semua rasa sudah gila
dan gilapun merasakan punya jiwa
namun kau tak pernah juga bilang gila
tak kan pernah tak kan pernah hilang gila

Dan ku harap menjadi bagianmu
ku bisa gila tak berharap
dan ku harap menjadi harapanmu
ku bisa gilaaa..

Tulisan ini dipublikasikan tahun lalu di kanal webzine PadangOnstage. Single ini telah berumur satu tahun namun masih betah menemani daftarlagu pilihan.

Hari Toko Rekaman

Embed from Getty Images

18 April kembali riuh dengan peringatan “Hari Toko Rekaman”, kegiatan ini merupakan dedikasi atas jasa toko rekaman (kaset/cd/vinyl) dimasa lalu yang sempat menjadi bagian penting kebudayaan populer.  Ketika semua berubah menjadi digital, perilaku konsumen produk rekaman pun berubah.  Produk digital yang lebih murah dan praktis menjadi alasan generasi kini yg dikenal generasi z.

Mari kesampingkan perilaku pembajakan, karena itu merupakan pilihan konsumen sendiri. Dan produsen rekaman (musisi/label) tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya.  Saya sendiri beranggapan tidak semua manusia penikmat musik akan bergantung pada produk bajakan, selama pihak-pihak terkait mampu menjalankan fungsi edukasi pada khalayak baru.

Kenapa khalayak baru? Generasi saya dimana arus informasi tidak sederas sekarang, sebagai seorang remaja yang tinggal 100km dari ibukota propinsi saat itu, maka mustahil mendapatkan produk rekaman dengan mudah. Pedagang kaset tape hanya singgah 1x seminggu di kecamatan kecil kami. Tentu dengan rilisan yang terbatas pula. Tapi ketahuilah, akan selalu ada niat untuk memberikan apresiasi kepada musisi entah apapun bentuknya.

Berbeda dengan khalayak baru atau generasi sekarang ketika mereka remaja, internet bahkan telah hadir dalam genggaman tangan. Generasi ini mungkin merasa produk musik yang betebaran di dunia maya, benar-benar dalam bentuk produk legal meski mereka mengunduh dengan menggunakan kata kunci “download lagu d’massiv – cinta ini membunuhku gratis”.

Peringatan Hari Toko Rekaman tahun ini semakin meriah dengan adanya 16 kota di Indonesia yang ikut merayakan 18 April 2015 (Rolling Stone Indonesia). Tak masuk dalam daftar tersebut, skena lokal 2 kota dari kampung halaman pun tak ketinggalan (PadangOnStage). Sementara di Bali sendiri acara berpusat minimalis di Taman Baca Kesiman.

Sukses? Saya tidak dalam kapasitas yang akan menilai kesuksesan perayaan ini, toh saya tak ambil bagian didalamnya, bahkan tak ikut hadir. Namun menjadi satu catatan tersendiri bahwa perayaan ini berawal dari sebuah gerakan-gerakan dalam skena lokal dan menderu menjadi gerakan nasional, menular hingga ke kota-kota sekunder Indonesia.

Manfaat yang dapat dirasakan tentunya menjadi ajang pembuka cakrawala generasi kekinian bahwa produk rekaman itu nyata lho. Tak hanya dalam bentuk bit-bit digital dengan ukuran “Kbps”.  Dari tulisan Felix Dass yang juga menjadi pemandu salah satu program di #RSD2015 Jakarta, “terdapat 90 praktisi records yang ikut membuka booth pada gelaran tersebut”. Memang benar, label rekaman mendadak menjamur, fenomena ini disebut dalam salah satu artikel majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari sebagai “label rekaman butik”.

Label rekaman butik menjadi harapan tersendiri untuk seluruh bagian industri musik. Dengan banyaknya produsen, maka konsumen akan lebih banyak mendapatkan pilihan bukan. Lalu musisi pun bisa mendapat kesempatan yang lebih jika label rekaman semakin banyak. Meski blog Techinasia sempat menulis bahwa “Startup Sebaiknya Tidak Masuk ke Industri Musik” pada tahun 2013 lalu, namun kita bisa lihat prediksi ini tidak sepenuhnya menyurutkan semangat pemuda-pemudi Indonesia untuk ambil bagian dalam industri musik.

Saya memang tidak ambil bagian, setidaknya dinihari 18 april, saya memilih bernostalgia di linimasa bersama teman-teman tentang bagaimana kami dahulu menikmati sebuah rilisan musik. Kini pertanyaan selanjutnya, bagaimana industri musik kita akan bertahan? Atau minimal kita harus siap jika tulisan di FactMag ini terjadi di skena lokal kita yang sedang penuh gairah.

ditulis marathon melalui apps wordpress iphone – sebelum dituntaskan melalui desktop | denpasar – 21/4/2015

Bumerang

Tulus – Bumerang (Gajah, 2015)

Belum genap satu bulan, aku menjejakkan kaki di pulau dewata. Memulai langkah kakiku yang baru. Memulai hidupku yang baru. Meninggalkan semua kejayaan dibelakang, menjadi bukan siapa-siapa di negeri orang. Linda, begitulah panggilannya. Aku mendengar terlebih dahulu nama itu dari rekan kerja di lingkungan baruku. “Nanti akan ada anak training baru, namanya Linda, kamu nanti ketemu sendiri. Dia sudah pernah bekerja disini, tapi resign beberapa bulan lalu karena orang tuanya sakit”. Tidak ada sedikitpun ketertarikanku atas cerita itu.

Hingga akhirnya Linda datang, tubuhnya yang mungil membuat diriku sedikit mengabaikan kehadirannya. Karena selain Linda juga ada satu orang lagi yang juga dalam masa training. Kalau menurut pengakuannya, aku cukup pongah saat itu. Tidak Linda, bukan itu maksudku. Seketika perasaan ini berubah saat aku mendapat giliran untuk mendampingi Linda training. Dia begitu nyata rupanya. Penuh keceriaan, gelak tawanya sungguh akan membuat siapapun yang mendengar dari kejauhan akan penasaran. Linda tak pernah berusaha untuk menjaga sikapnya. Dia menjadi dirinya sendiri, apa adanya.

Pelatihan itu berlanjut dengan obrolan-obrolan panjang beberapa hari kemudian. Kami bertemu diluar kantor. Kami tak terpisahkan melalui aplikasi berbagi pesan telepon pintar. Linda ternyata berzodiak yang sama denganku, scorpio. Terkadang sikap dan tindak tanduknya, mengingatkanku pada sikapku sendiri. Bisa jadi itu juga yang membuat perkenalan singkat ini menjadi seperti begitu mudah. Aku sendiri adalah scorpio yang akan memberikan dedikasi spesial untuk seseorang nan spesial. Kuselipkan notes dibawah meja kerjanya. Kutitipkan salam melalui temannya. Kumasukkan hadiah ke dalam tas tanpa sepengetahuannya. Perbedaan umur 8 tahun membuat ia seperti diriku yang riang dulu. Terkadang Linda tak bs kutemukan, tak membalas chat, tak ada kabar. Lalu ia hadir kembali dan akupun tak berusaha tahu.

Suatu malam ia mengeluh, kiriman dari orang tua masih belum tiba. Linda baru makan tadi pagi. Aku bergegas dari kamar kost, membelikan sup kesukaannya. Setibanya didepan kantor, aku menghubunginya. Teleponku tak berbalas, dan aku melihat ia menghampiri seorang pria di teras, memegang tangannya dengan manja. Aku membawa bungkusan itu ke toko sebelah kantor, dan memberikannya pada penjaga toko yang memang sudah kukenal. Tak sedikitpun ku lirik ke arah Linda, aku berbalik dan pulang menuju kost-an. Saat itu aku ingat, scorpio pun adalah seorang yang setia dengan pasangan dan tak mudah meninggalkannya.

pondok dewa bharata | denpasar – 12/3/2015

senandung rindu

Embed from Getty Images

weezer – across the sea (pinkerton, 1996)

Mari lupakan sejenak cerita utuh lagu ciptaan Rivers Cuomo ini. Secara pribadi, potongan lirik maupun nada lagu ini cukup mewakili perasaan rindu yang membuncah. Dengarkan bagian akhir penuh amarah, distorsi gitar semakin menggaruk, sementara drum berontak tak hentik digebuk.

Meski dibuka dengan manis, sebuah intro piano dan suara lembut Cuomo. Seperti itulah rasa rindu digambarkan, awalnya menyunggingkan senyum, kelamaan mulai mengesalkan. Bayangkan saja jika memang terpisahkan lautan seperti judul lagu ini dengan yang sedang dirindukan. Keluarga, teman, siapa saja. Maka cerita lagu ini tentang surat yang diterima Cuomo dari penggemarnya di Jepang terasa berbeda.

Lalu kenapa perasaan yang diungkap bisa sama. Cuomo saat itu tengah depresi dan kesepian ditengah tuntutan album kedua. Lihat saja album Pinkerton yang memiliki progresi kord rumit ini sebagai bukti tengah ruwetnya pikiran sang komposer.

Ketika bagian “Why are you so far away from me? I need help and you’re way across the sea” dinyanyikan maka menjadi relevan dengan siapa saja yang tengah dilanda rindu, walaupun tidak benar-benar diseberang lautan, karna bisa saja hanya dibatasi sebuah bantal guling namun terasa jauhnya.

Atau memang sebenar-benarnya merindukan keluarga yang menempuh 2 kali ferry penyebrangan. Bisa saja merindukan teman-teman di pulau sebelah.

Ya, benar. Saya tengah rindu keluarga dan teman-teman.

pondok dewa bharata | denpasar – 18/4/2015