Jatuh Hati

Keheningan malam dirusak oleh nyanyian nyamuk yang tak berhenti melakukan atraksi terbang disekitarku. Rumah yang telah begitu lama kutinggalkan selalu menyisakan malam-sulit-tidur bagiku. Telah cukup banyak hal kulakukan untuk mengundang kantuk. Termasuk menyusuri bilik sosial media melalui gawai yang mendadak demam-panas-tinggi akibat sinyal satu garis di sebuah kabupaten terpencil. Yup, nama kota ini dicibir oleh mantan calon mertua saat pertemuan pertama kali. Merasa tersinggung? Tidak juga, alih-alih mutung, aku malah terlecut membuktikan bahwa aku adalah pria idaman, kendati memang tetap berakhir gagal, tapi tidak disebabkan oleh asal kelahiranku. Aku bisa pastikan itu. Aku selalu mendoakannya di surga sana, dan berharap ia mengerti bahwa aku telah melakukan apa yang harus kulakukan dibalik pilihan-pilhan yang salah.

Aku pun telah menghabiskan makanan di tudung nasi malam ini. Ibu tak akan marah, karna anaknya cukup kurus saat pulang kali ini. Kantuk tak kunjung datang. Mata masih menjalang. Kuhisap sebatang rokok tersisa (yup, saya adalah perokok, tidak berat, tapi saya bangga menjadi perokok, hendak kau hujam dengan batu? Tunggu dulu, kita bisa bahas masalah ini dalam cerita yang berbeda), varian rokok baru dari merek ternama. Baunya sungguh tak menggoda, dikuasai oleh aroma cengkeh yang sempat jadi penggoda bangsa Belanda ke negri kita.

Kuhembuskan saja terus asap penuh racun (jika kalian hendak menyebutnya begitu), pada sebuah tanaman yang baru saja ibu bawa dari rumah saudara. Aku hanya berharap tanaman ini tidak mati esok hari, jika ia mati akhirnya aku tahu bahwa aku harus berhenti (merokok).

Dua episode sinetron terbaru dari ranah Britania juga telah ku tonton tadi setelah gawai tak lagi menarik hati. Karna kantuk tak kunjung juga menjadi, makanya kutandaskan satu piring nasi.

Entah kenapa sepertinya hanya rumah inilah yang mengerti. Rumah yang sedari dulu tak pernah kubayangkan akan menjadi tempat berteduhku lagi. Saat aku kembali pulang, sebenar-benar pulang beberapa bulan lalu, aku bahkan tak memiliki kamar lagi. Bapak membobol kamar yang pernah kutempeli foto Megawati di belakang pintunya. Kamar dimana kuhabiskan waktu membaca buku sihir Britania dibalik buku pelajaran. Kamar itu berubah menjadi ruang makan yang lebih luas. Hari ini ketika aku datang, lemari pakaianku beserta barang-barang pribadiku yang sebelumnya teronggok di ruang tengah layaknya barak pengungsian tak lagi berada ditempatnya. Ah, ternyata aku telah memiliki kamar. Memang masih ada kamar dirumahku, namun kamar tersisa ini sudah layaknya gudang, tapi Bapak dan Ibu kembali menyulapnya menjadi layak-tidur bagi anak bujang satu-satunya ini.

Rokok kelas-ekonomi dari merek ternama itu akhirnya tandas. Ku dekati meja kerja Bapak, hufft, hanya tersisa satu batang kretek, sepertinya ia menyimpannya untuk esok pagi.Kretek yang masih setia ia hisap meski sempat berhenti beberapa bulan hingga ia mengeluh malah menjadi tidak sehat karna berhenti merokok. Kretek yang tadi ia keluhkan mengalami penurunan rasa. Tidak seenak biasanya. Ibu yang mendengar protes Bapak, hanya bisa menjawab “Jadi harus dimana lagi ku belikan rokok Uda?”. Sepertinya Bapak beranggapan beberapa kedai di dekat rumah kedapatan stok kretek yang mungkin kadaluarsa. Mungkin Bapak hendak berhenti, atau ia hanya ingin rasa kreteknya kembali menurut standarisasinya. Entahlah.

Memasuki pukul tiga-pagi. Besok sudah barang pasti aku akan bangun terlambat. Dan harus mendengarkan gerutuan Ibu bahwa aku bangun siang, melewatkan subuh, dan membelikan sarapan kesukaanku; tahu goreng-isi dengan siraman sambal kacang. Semoga saja begitu, karna sekarang aku harus tidur. Aku baru ingat, kantuk ini tertahan akibat aku tadi tertidur selama perjalanan menuju rumah. Aku memilih tidur karna tak begitu suka bercakap-cakap penuh basa basi dalam perjalanan.

Tapi aku juga tak percaya pada asumsi ini. Bisa jadi karna masih ada pertanyaan yang tertambat dihati? Bahwa ada sesuatu yang harus ku ungkapkan dari hati? Jika memang masa lalu kerap menjadi bagian ucapanku hari ini. Aku sungguh tak bisa menghapus memori. Aku sudah berencana, tapi aku tak separah itu. Mudah-mudahan ia paham. Ia yang akan ku temui beberapa hari lagi. Untuk ku ungkapkan isi hati.

Ah, kantuk ini tak kunjung tiba, karna aku sedang jatuh hati?

 

Sijunjung

14/3/2016

Dalam upaya menuju peraduan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s