Tak bahagia maka bercerita

Memang ada hasil penelitian yang menyebutkan bahwa seseorang yang merasa dirinya bahagia, maka ia tak lagi riuh di berbagai sosial media. Karna ia tak lagi gelisah dan merasa tak perlu berbagi “kebahagiaan”, semua telah berkecukupan.

Awalnya saya menantang hal itu. Namun ternyata ada benarnya juga. Saya tak banyak menulis di blog ini, maupun di sosial media lainnya. Saya bahagia? Entahlah, saya juga tak berusaha mengira-ngira. Saya rasa biasa saja.

Tapi sekali lagi saya hendak mematahkan teori tersebut, susah juga memang. 2 minggu saya coba mencari-cari bahan untuk ditulis. Nihil. Sepertinya saya harus kembali baper, atau galau. Maka tadi secara tidak sengaja saya menemukan pemantiknya, tak sengaja lagu “Adele – All I Ask” terdengar.

Kesampingkan sejenak fakta bahwa Adele memang meraung-raung sepanjang lagu. Saya hanya terfokus pada kata penutup “What if i never love again?”. Saya merasakan diri ini tengah mengawang. Sedang luka? entahlah, bahagia? entahlah. Dan ketika pertanyaan “bagaimana jika ku tak pernah mencintai lagi?” menjadi relevan.

Pertanyaan ini telak sekali.

Mungkin saya tak pernah mencintai lagi,

Saya hanya perlu menulis kembali.

Menulis tentang kamu, yang (akan) menjadi lembaran baru hidupku.

Padang – 4/3/2016

*tulisan ini hanya pemantik, maklum tuts keyboard mulai berkabut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s