Lelaki yang tak dirindukan 

Serapah menghujam dari mulutnya. Secara teratur matanya terus melirik telepon genggam. Tak ada kabar dari gadis itu. Ia mengutuki kata-kata yang selalu diujar sang gadis saat mereka berbalas pesan. “Don’t miss me, ya cemerungut”. Dini hari ini ia setuju bahwa kalimat itu adalah rapal-rapal mantra. Diucapkan berulang justru bukan sebagai doa, namun sebuah ajian kutukan. Lelaki itu dirundung rindu tak keruan.

Menjelang senja, ia telah menelepon gadis itu. Tapi ia tak banyak berkata. Ada kebisuan melekat. Gadis itu berusaha mencairkan suasana. Namun ia masih tercenung. Dengan terlambat ia menjawab beberapa pertanyaan yang dideru sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Kini ia (kembali) meraih telepon genggam. Berharap pesan yang baru ia kirim dua jam yang lalu masuk dan terbaca. Nihil. Masih satu tanda ceklis yang berarti terkirim pun belum. Sinyal jaringan internet di rumah kampung halamannya memang tak bersahabat. Berbagai cara ia akali, menghidupkan mode pesawat, mematikan telepon genggam sejenak, namun pesan tak jua sampai. Ia berpura-pura menyapa salah satu sahabatnya, beralasan hanya mengecek warga. Sahabat tersebut hanya menyambutnya dengan tawa. Ah, tak ada masalah dengan jaringan internetku pikirnya.

Gadis itu berusia delapan tahun lebih muda darinya. Perkenalan singkat berlanjut obrolan hingga menjelang pagi melalui aplikasi berbalas pesan di gawai. Tak jarang mereka juga berbagi panggilan suara hingga azan subuh berjarak dua jam lagi. Ada keceriaan terpercik dari gadis itu. Lambat laun menerangi sang lelaki yang memang kerap murung. Dari situ sang gadis memanggilnya cemerungut.

Jiwa lelaki itu sudah sedemikian kosong, hingga menekuk wajah adalah hal yang biasa baginya. Semudah menekuk lutut. Ia begitu tidak peduli dengan banyak hal. Rambutnya sempat dibiarkan panjang tak beraturan, sebelum akhirnya ia merapikan dibagian pinggir kiri dan kanan. Membiarkan bagian atas dan poni tetap panjang. Polem atau poni lempar ucap beberapa orang temannya. Sebagai laki-laki dipenghujung usia kedua puluh, kumis ia biarkan tumbuh lebat, lengkap dengan brewok yang juga ikut merambat rapat. Ia tak peduli meski satu persatu rambut itu mulai dalam warna yang tidak senada, ada yang putih ada pula yang kepirangan. Peduli apa kutuknya.

Hujan mendadak lebat meski tadi bintang sempat nampak berkelebat. Ia menandaskan beberapa buku kumpulan cerpen hari ini. Aktivitasnya tak jauh dari tempat tidur dan ruang makan. Peluh pun kian mendesir dipunggungnya. Menyantap durian beserta kucuik (ketan bersantan) untuk makan malam tadi bersama kedua orangtuanya. Saat hujan turun akhirnya ia mengganti tuduhan terhadap ketan dan durian tadi sebagai biang dirinya merasa kepanasan. Gerah ini muncul karna hujan yang mendadak lebat ini datang.

Ia kembali mengisi ulang gelas besi miliknya dengan air putih. Tak butuh kopi untuk membuat mata ini menjalang hingga pagi. Menunggu balasan dari gadis itu sudah cukup membuatnya sulit memejamkan mata. Lantas ia coba menentang rindu yang hadir. “Apa hakmu untuk rindu padanya?” Ia bertanya pada dirinya sendiri. “Belum genap sebulan kamu mengenalnya. Pacar juga bukan. Lancang sekali dirimu berkalang rindu seperti ini!” Ia berusaha keras mengiris rindu.

Lamunan kembali membawanya ke masa lalu. Jauh sebelum mengenal gadis ini, ia pernah menjalin hubungan yang berakhir kandas. Sebegitu terpuruknya, ia kandas hingga tandas. Tak ada percik bahagia tersisa dihatinya. Semua itu direnggut oleh sang mantan yang meninggalkannya. Setahun berselang hatinya mulai berbaikan dengan keadaan. Ia tak menyalahkan lagi sang mantan, ia mulai menerima sedikit banyaknya guratan nasib ini disebabkan oleh petingkah dirinya sendiri. Kelewat sayang hingga akhirnya kelewat malang saat berakhir.

Ia tak menyesali apa yang terjadi. Dalam satu tahun terakhir ia memang dalam keadaan keuangan yang memburuk. Melacurkan diri pada pekerjaan, hingga akhirnya ia memilih pulang. Semenjak pulang nasib pun tak jua bersahabat. Ia luntang-lantung mencari kesibukan. Iya, kesibukan. Bukan pekerjaan. Suram benar memang. Secercah cahaya itu memang baru datang saat dekat dengan si gadis. Ada gemericik yang kembali membuat lelaki itu tertawa lepas. Gadis itu bahkan pernah mengiriminya puisi di pagi hari –meski sang gadis merasa tidak percaya diri dengan puisi yang ia kirimkan-. Suatu hal yang menurut lelaki itu adalah tindakan paling romantis yang pernah didapat seumur hidupnya

Hujan mulai reda, langit kian bergemuruh. Ia mulai mengakhiri debat dalam hatinya yang berkecamuk. Ikhlas adalah ilmu yang ia pelajari dengan teramat perih. Maka apa yang ia alami malam ini hanya butuh secuil keikhlasan yang telah ia stok sedemikian banyak disetiap sudut hati. Ia mengakhiri lamunan, menyimpan dan mengirimkan rangkaian coretan itu melalui aplikasi berbagi pesan kepada sang gadis. “Ia harus tahu aku rindu, meski aku adalah lelaki yang tak dirindukannya” ia menutup pesan.

Sijunjung | 5 Januari 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s