Pulang Karena Ruang

Tak hanya wipol (sejenis karbol), bahkan saya harus menggunakan vixal (mengandung HCL) hingga blog ini bersih dari lumut setelah ditinggalkan hampir 2 bulan. Tak terurus, berbau.

Semenjak saya memutuskan pulang dari pengembaraan (??), saya malah makin nomaden. Saya memang tidak pindah dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Namun jarak tempuh rumah (SJJ) dengan Ibu Kota provinsi (PDG) memang membutuhkan (hampir) 3 jam perjalanan, hingga saya harus bolak-balik satu kali seminggu. 

Kesibukan ini semakin memuncak saat kedua orang tua masih menunaikan ibadah di tanah suci, berlapis inisiasi yang hendak di kerjakan, dan helat kenduri sepupu yang hanya memberi waktu 3 minggu persiapan.

Hasilnya? Lelah sangat. Belum bisa fokus. Satu-satunya harapan yang diimpikan adalah kemampuan membelah diri ala makhluk bersel satu, amoeba. Puncaknya ketika tambatan hati harus mempertanyakan perhatian yang dapat diberikan. Syukurlah ia bisa mengerti.

Sebuah refleksi setelah lebih kurang 3 bulan pulang adalah ruang sebagai alasan utama yang membuat betah. Awalnya hanya prediksi, setelah saya coba sendiri, ruang yang kini ada di Kota Padang, memungkinkan ide-ide liar bergelora, tak ada yang tak mungkin!

Bulan ini akhirnya dapat menghela napas, jadwal kembali disusun. Jika hendak dikategorikan, maka 3 bulan awal adalah observasi, kini memasuki tahap eksplorasi. Menggali lebih dalam tentang ide-ide yang ada.

Memang uang bukanlah jawaban, saya tak pernah menyesal dengan alasan “karena ruang saya pulang”.

18 | okt | 15

Ditulis marathon sebelum mandi.

*andaleh | padang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s