Jomblo adalah Sebuah Status Magang

Predikat jomblo hadir setelah 5 tahun berkelindan dengan seseorang yang kini dilabeli mantan. Atau jika lebih tragis adalah 5 hari romantis bersama gadis yang juga akhirnya berakhir tragis dan traumatis. Lantas jomblo adalah jalan hidup yang akan dilalui selanjutnya. Jalan ini terjal. Banyak hambatan berjejal. Dan jika hati tak cukup bebal, maka sesal dapat berujung fatal.

Layaknya melewati tapak-tapak anak tangga. Energi yang selama ini dipikul berdua dalam filosofi “dunia milik kita, berdua saja” mendadak serasa harus dibakul sendiri. Langkah-langkah awal tampak berat. Ada suatu masa dimana perasaan sesal menyentuh moral, hingga harus membebani diri dengan pertanyaan “apakah dia baik-baik saja?”. Lalu seketika bisa berubah menjadi rasa kesal seperti koral saat sang mantan memilih berlabuh ke sandaran yang lain dalam jarak 1 bulan perpisahan. Iya, kita tak bisa menyalahkan cinta, karena konon ia bisa datang tak tepat waktu.

Anggaplah kita akhirnya melewati tahap pertama tersebut. Sebut saja move on. Secara perlahan akhirnya kita bisa membuka diri pada kehadiran sekitar. Maka langkah berikut yang harus dihadapi adalah gejala seperti baper yang bisa berakhir pada dua pilihan friendzone atau php. Sebagai individu yang berusaha untuk teguh dengan pendiriannya, ada sebuah kegagapan yang membuat tidak mudah untuk kembali menjalin hubungan.

Jika ia bisa dengan semena-mena move on dan jadian. Kenapa kita harus tetap jomblo? Satu yang telak saya pelajari, bahwa sesungguhnya jomblo adalah pilihan. Bukan berarti tidak ada ketertarikan. Namun memang sedang tidak mau saja. Bahwa cukup petuah ibunda jika “jodoh sudah ada yang ngatur” dijadikan pedoman menjalani hari.

Jomblo berarti memberikan kebebasan pada diri, tanpa harus berkompromi. Jomblo itu belajar mencintai diri sendiri hingga suatu saat nanti jika memang bertemu dengan jodoh yang telah diatur, kita tak perlu menyesal dan melantur. Bahwa hati yang konon dianggap sepi dikala sendiri ini pernah kita isi dengan mimpi pribadi tanpa harus dibagi.

Jika memang anda (jomblowan dan jomblowati) setuju, maka anda akan setuju dengan judul diatas; jomblo adalah sebuah status magang. Dimana kita akan belajar mencintai diri sendiri secara sukarela tanpa ada harap imbalan sesuatu. Ketika kita akan gagal pada fase pedekate berujung baper, friendzone berakhir php, kita tak perlu sesal karena kita berstatus magang. Kita dibawah naungan mentor yang tak lain adalah diri kita sendiri.

Seperti karyawan magang pada umumnya. Kita akan melakukan hal remeh-temeh dibagian awal. Membelikan makan siang yang lebih senior, memfotokopi KTP Pak Bos ke seberang jalan, dan lain sebagainya. Jika kita gigih, kelak kita sebagai karyawan magang pelan-pelan mulai diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai pribadi yang magang pun kita bisa menikmati apa yang tengah dijalani, untuk mendapatkan sebuah pengalaman yang kelak kan kita kenang.

Mungkin pertanyaan selanjutnya hanyalah, sampai kapan saya dan kita yang membaca tulisan ini akan magang?

Shift malam – HBH | 25/6/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s