Hujan

Rae Morris – Do you even know? (Unguarded, 2015)

Embed from Getty Images

Biasanya tengah hari disini terasa sangat terik. Hari ini berbeda, mengiringi tubuh yang lelah beristirahat, hujan turun. Erlend hanya diam dari lantai 2 kamar kosnya. Menatap butiran-butiran air yang turun bersamaan dari langit nan tetap cerah.

Ia merasakan kebahagiaan menerpa. Erlend teringat mimpinya semalam yang terasa acak. Erlend kembali ke bangku sekolah menengahnya dulu, dalam balutan baju pramuka, ia bisa membayangkan bahwa itu adalah hari sabtu. Tepat seperti hari ini.

Ah, hujan mulai pergi. Erlend mengingat Rani, satu-satunya wajah yang jelas tampak dalam mimpinya. Rani duduk dua bangku dari Erlend yang duduk sendiri di pojok belakang. Erlend adalah ketua kelas dan memilih duduk sendiri dibelakang selain karena jumlah siswa kelas yang berbilang ganjil, ia merasa bisa memperhatikan seisi ruangan dari tempatnya berada.

Erlend sendiri pula yang menyusun posisi teman-temannya satu kelas. Niah yang merupakan pacarnya saat itu di letakkan agak ke tengah. Alasannya, ia tak ingin terlihat setiap saat menggoda Niah yang pemalu. Lalu kenapa Rani yang hadir dalam mimpi Erlend tadi malam? Rani itu spesial ungkapnya. “Kami telah berteman semenjak sekolah dasar, dan semenjak itu pula aku suka dengannya” Erlend memulai gumamannya.

Hujan telah berhenti.

Dalam mimpi yang tiba-tiba tadi malam. Rani tampak tak bugar. Bagi seseorang yang tergabung dalam ekstrakurikuler basket, tentu hal ini tampak tak wajar. Dibandingkan dengan Erlend yang tak tergabung dengan kegiatan apapun diluar sekolah, maka Rani adalah kebalikannya, ia aktif terlibat dalam berbagai kegiatan olahraga.

Erlend menghampiri Rani dalam mimpi itu. “Kamu kenapa?” tanya Erlend. “Aku nggak enak badan nih..” jawab Rani lirih. “Ya udah, minta izin pulang aja.. Mau aku anterin pulang?” Erlend menawarkan bantuan. “Ga usah, nanti aja, bentar lagi kan pulang..” Rani menolak. Sudah. Hanya itu kepingan mimpi semalam yang membuat Erlend masih tercenung siang ini.

Ia sudah terpisah jauh baik secara waktu maupun jarak dari teman-temannya sekolah dulu. Hubungannya dengan Niah berakhir tak lama menjelang pengumuman kelulusan SMA. Rani? Pasang surut keakraban mereka cukup acak, Erlend bahkan tak ingat apakah dulu sempat pamit sebelum meninggalkan kampung halaman. Beberapa kali bersua dalam ajang buka bersama, Rani hanya berlalu, Erlend pun tak berusaha menyapa.

Hujan yang turun sesaat tadi menghembuskan udara kebahagiaan. Tanah yang kering dan lelah, merasakan bulir air hujan yang turun melewati daun-daun yang tampak layu. Mimpi tadi bagi Erlend seperi basahan hujan yang akhirnya datang. Ia tengah berbahagia sendiri, tapi mimpi dan memori yang bergulir membawanya lebih jauh.

Pondok Dewa Bharata – Denpasar | 2/5/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s