Hari Toko Rekaman

18 April kembali riuh dengan peringatan “Hari Toko Rekaman”, kegiatan ini merupakan dedikasi atas jasa toko rekaman (kaset/cd/vinyl) dimasa lalu yang sempat menjadi bagian penting kebudayaan populer.  Ketika semua berubah menjadi digital, perilaku konsumen produk rekaman pun berubah.  Produk digital yang lebih murah dan praktis menjadi alasan generasi kini yg dikenal generasi z.

Mari kesampingkan perilaku pembajakan, karena itu merupakan pilihan konsumen sendiri. Dan produsen rekaman (musisi/label) tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya.  Saya sendiri beranggapan tidak semua manusia penikmat musik akan bergantung pada produk bajakan, selama pihak-pihak terkait mampu menjalankan fungsi edukasi pada khalayak baru.

Kenapa khalayak baru? Generasi saya dimana arus informasi tidak sederas sekarang, sebagai seorang remaja yang tinggal 100km dari ibukota propinsi saat itu, maka mustahil mendapatkan produk rekaman dengan mudah. Pedagang kaset tape hanya singgah 1x seminggu di kecamatan kecil kami. Tentu dengan rilisan yang terbatas pula. Tapi ketahuilah, akan selalu ada niat untuk memberikan apresiasi kepada musisi entah apapun bentuknya.

Berbeda dengan khalayak baru atau generasi sekarang ketika mereka remaja, internet bahkan telah hadir dalam genggaman tangan. Generasi ini mungkin merasa produk musik yang betebaran di dunia maya, benar-benar dalam bentuk produk legal meski mereka mengunduh dengan menggunakan kata kunci “download lagu d’massiv – cinta ini membunuhku gratis”.

Peringatan Hari Toko Rekaman tahun ini semakin meriah dengan adanya 16 kota di Indonesia yang ikut merayakan 18 April 2015 (Rolling Stone Indonesia). Tak masuk dalam daftar tersebut, skena lokal 2 kota dari kampung halaman pun tak ketinggalan (PadangOnStage). Sementara di Bali sendiri acara berpusat minimalis di Taman Baca Kesiman.

Sukses? Saya tidak dalam kapasitas yang akan menilai kesuksesan perayaan ini, toh saya tak ambil bagian didalamnya, bahkan tak ikut hadir. Namun menjadi satu catatan tersendiri bahwa perayaan ini berawal dari sebuah gerakan-gerakan dalam skena lokal dan menderu menjadi gerakan nasional, menular hingga ke kota-kota sekunder Indonesia.

Manfaat yang dapat dirasakan tentunya menjadi ajang pembuka cakrawala generasi kekinian bahwa produk rekaman itu nyata lho. Tak hanya dalam bentuk bit-bit digital dengan ukuran “Kbps”.  Dari tulisan Felix Dass yang juga menjadi pemandu salah satu program di #RSD2015 Jakarta, “terdapat 90 praktisi records yang ikut membuka booth pada gelaran tersebut”. Memang benar, label rekaman mendadak menjamur, fenomena ini disebut dalam salah satu artikel majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari sebagai “label rekaman butik”.

Label rekaman butik menjadi harapan tersendiri untuk seluruh bagian industri musik. Dengan banyaknya produsen, maka konsumen akan lebih banyak mendapatkan pilihan bukan. Lalu musisi pun bisa mendapat kesempatan yang lebih jika label rekaman semakin banyak. Meski blog Techinasia sempat menulis bahwa “Startup Sebaiknya Tidak Masuk ke Industri Musik” pada tahun 2013 lalu, namun kita bisa lihat prediksi ini tidak sepenuhnya menyurutkan semangat pemuda-pemudi Indonesia untuk ambil bagian dalam industri musik.

Saya memang tidak ambil bagian, setidaknya dinihari 18 april, saya memilih bernostalgia di linimasa bersama teman-teman tentang bagaimana kami dahulu menikmati sebuah rilisan musik. Kini pertanyaan selanjutnya, bagaimana industri musik kita akan bertahan? Atau minimal kita harus siap jika tulisan di FactMag ini terjadi di skena lokal kita yang sedang penuh gairah.

ditulis marathon melalui apps wordpress iphone – sebelum dituntaskan melalui desktop | denpasar – 21/4/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s