Bumerang

Tulus – Bumerang (Gajah, 2015)

Belum genap satu bulan, aku menjejakkan kaki di pulau dewata. Memulai langkah kakiku yang baru. Memulai hidupku yang baru. Meninggalkan semua kejayaan dibelakang, menjadi bukan siapa-siapa di negeri orang. Linda, begitulah panggilannya. Aku mendengar terlebih dahulu nama itu dari rekan kerja di lingkungan baruku. “Nanti akan ada anak training baru, namanya Linda, kamu nanti ketemu sendiri. Dia sudah pernah bekerja disini, tapi resign beberapa bulan lalu karena orang tuanya sakit”. Tidak ada sedikitpun ketertarikanku atas cerita itu.

Hingga akhirnya Linda datang, tubuhnya yang mungil membuat diriku sedikit mengabaikan kehadirannya. Karena selain Linda juga ada satu orang lagi yang juga dalam masa training. Kalau menurut pengakuannya, aku cukup pongah saat itu. Tidak Linda, bukan itu maksudku. Seketika perasaan ini berubah saat aku mendapat giliran untuk mendampingi Linda training. Dia begitu nyata rupanya. Penuh keceriaan, gelak tawanya sungguh akan membuat siapapun yang mendengar dari kejauhan akan penasaran. Linda tak pernah berusaha untuk menjaga sikapnya. Dia menjadi dirinya sendiri, apa adanya.

Pelatihan itu berlanjut dengan obrolan-obrolan panjang beberapa hari kemudian. Kami bertemu diluar kantor. Kami tak terpisahkan melalui aplikasi berbagi pesan telepon pintar. Linda ternyata berzodiak yang sama denganku, scorpio. Terkadang sikap dan tindak tanduknya, mengingatkanku pada sikapku sendiri. Bisa jadi itu juga yang membuat perkenalan singkat ini menjadi seperti begitu mudah. Aku sendiri adalah scorpio yang akan memberikan dedikasi spesial untuk seseorang nan spesial. Kuselipkan notes dibawah meja kerjanya. Kutitipkan salam melalui temannya. Kumasukkan hadiah ke dalam tas tanpa sepengetahuannya. Perbedaan umur 8 tahun membuat ia seperti diriku yang riang dulu. Terkadang Linda tak bs kutemukan, tak membalas chat, tak ada kabar. Lalu ia hadir kembali dan akupun tak berusaha tahu.

Suatu malam ia mengeluh, kiriman dari orang tua masih belum tiba. Linda baru makan tadi pagi. Aku bergegas dari kamar kost, membelikan sup kesukaannya. Setibanya didepan kantor, aku menghubunginya. Teleponku tak berbalas, dan aku melihat ia menghampiri seorang pria di teras, memegang tangannya dengan manja. Aku membawa bungkusan itu ke toko sebelah kantor, dan memberikannya pada penjaga toko yang memang sudah kukenal. Tak sedikitpun ku lirik ke arah Linda, aku berbalik dan pulang menuju kost-an. Saat itu aku ingat, scorpio pun adalah seorang yang setia dengan pasangan dan tak mudah meninggalkannya.

pondok dewa bharata | denpasar – 12/3/2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s